REFLEKSI PPEP 5

"REFLEKSI PEMBELAJARAN"
13 Januari 2019

Assalamualaikum, wr. wb., Syalom semuanya, salam sejahtera,, Halo semuanyaaaa, balik lagi ke next blog yang banyak kurangnya tapi banyak manfaatnya, semoga kabarnya semakin hari semakin luar biasa terus-terusan ya.. Untuk terakhir kalinya di mata kuliah ini, refleksinya lebih sedikit aja, supaya bisa dimengerti aja hehehehe...

Pada pembelajaran Perencanaan, Pengelolaan, dan Evaluasi Pembelajaran (PPEP) hari ini, saya diberikan pemaparan singkat oleh Ibu Yuli Rahmawati, M.Sc, Ph.D mengenai Pengelolaan Kelas sebagai materi terakhir pembelajaran PPEP ku semester ini, semoga ceritaku ini bisa berkesan ... Lanjut di read yuukk

PENGALAMAN TENTANG PENGELOLAAN KELAS

Mengelola itu banyak arti dan butuh perjuangan, yaaa emang ga seberat perjuangan kemerdekaan sih, tapi berjuang membuat hari itu menyenangkan di mata penikmat pendidikan saat ini susah nya mendekati kemerdekaan,, karena uda kurang banget respon buat belajar dan hanya segelintir orang yang bisa bertahan buat belajar yang banyak tuntutannya ini.. Mengelola yang aku bahas kali ini lebih ke arah berkhayal gimana me-manage kelas kelak gue uda jadi guru sebenarnya.. Banyak hal dalam perkuliahan 5 semester ini yang bisa jadi acuan mengelola kelas, seperti adanya ice breaking apalagi kalau jam kelasnya sudah diujung" menjelang istirahat makan siang dan menjelang pulang sekolah.. Itu rasanya mungkin uda mesti putar otak.

Sebelumnya, saya pribadi belum bisa bayangkan gimana rasanya mengelola kelas secara langsung, tapi melalui pemaparan kasus yang sudah Ibu Yuli berikan, kira-kira gambaran/model kelas saat ini sangat jauh bila dibandingkan dengan realita pendidikan di jaman dulu guys,, apalagi era modern ini perubahan pola hidup dan pola pikir peserta didik itu sudah ga karuan, dari yang merokok, mabuk-mabukan di jalan, tawuran (itu skala besarnya), atau tidak dateng ontime, suka menyontek (itu wajar sih hahahaha, tapi jangan ditiru dan diteruskan yaw dek adek) apalagi kalau sudah dihukum berimbas ke beban guru yang disalahkan dari orang tua peserta didik itu..

Yaaa satu-satunya menjadi guru itu yaaa perlu adanya kesabaran dan kepekaan ekstra untuk memperhatikan setiap anak satu-satu.. dari berbagai latar belakang hidup keluarganya, pribadinya dia, sampai keseharian murid kita di sekolah perlu kita perhatikan. Seperti yang dijelaskan Bu Yuli yang menjadi perhatian topik kasusnya kalau ada siswa yang jenius namun sangat ansos terhadap lingkungan sekitar, atau ada anak murid yang selalu kesiangan datang ke sekolah karena harus berjuang dulu pagi" buta buat keluarganya,, sebenernya mau nangis sih denger begitu,, cuma yaaa itu contoh real life nya aja yang bisa kita liat,, terkadang banyak alasan buat siswa itu ga bisa tenang atau mengacaukan rencana belajar yang sudah kita susun sedemikin rupa guys.. Jadi teringat ke guruku dulu yang bener" ekstra untuk mengajar dengan sabar buat kelas kondusif dulu baru mengajar, belum kalau di pertengahan ada kejadian yang ga bisa dikontrol guru.. Mungkin akan susah lagi buat atur ulang nya.. Ga tau deh sama sekolah negeri karena ga pernah ngerasain negeri yang anaknya alim-alim, di sekolah swasta banyak background yang membuat mereka jadi satu komunitas, ada komunitas yang menengah ke atas, ada yang manusianya urakan dan ga terkendali, semuanya jadi satu.. yaaa itu emang jadi resiko yang harus diterima jadi guru dan berharap semoga selama 4 tahun di UNJ gue bisa menjadi garam dan terang di sekolah selama gue ngajar..

Caranya sih simple,, jadi diri mereka juga dan pinter"nya aja kita bergaul sama orang. That's enough..

Kira-kira itu aja dulu lagi yang bisa kuberikan di refleksi yang aku buat.. kiranya bisa jadi inspirasi buat yang baca dan mohon maaf kalau daru setiap refleksiku belum bisa sempurna, kesempurnaan hanya milik TYME yang guyss.. Berharap hidup kalian selalu diberkati olehNya.. Amiiiiiinnnn Good Luck...





Komentar

Postingan Populer